Senin, 28 Januari 2013

Truly In Love with Bali

Hari Kesatu
1 Januari 2013, Pukul 05.30 WIB, aku sudah meluncur menuju Bandara Soekarno-Hatta dengan Caravelle hitam. Jalanan sepi, hal yang cukup langka untuk kota sehebat Jakarta, tapi sangat wajar mengingat semalam pasti sebagian besar warga Jakarta hanyut dalam pesta pergantian tahun.

22 tahun tinggal di Indonesia, tapi inilah pertama kalinya aku mengunjungi primadona tempat wisata di Indonesia. Namun, tidak ada alasan untuk mengurangi rasa syukurku atas kunjungan ini. Diwarnai dengan keberangkatan pesawat yang delay selama hampir 90 menit dan disambut hujan saat mendarat, sampailah aku, suamiku, Arini, Uni Wiwit, Bang Aldo, dan Dika di Bandara I Gusti Ngurah Rai dan segera menghampiri Pak Ketut yang akan mengantar kami kemanapun selama empat hari ke depan di Bali.

Keluar dari bandara, kami langsung disambut macet. Agak sedikit mengecewakan, tapi memang begitulah kenyataannya, banyak orang ingin menikmati keindahan Bali di liburan pergantian tahun ini. Berhubung sudah waktunya makan siang, kami mampir terlebih dahulu di salah satu restoran seafood di Jimbaran, hal yang memang wajib dilakukan di Bali. Setelah makan siang, dengan perjalanan yang sedikit terhambat, kami meluncur ke tujuan pertama kami, yaitu kawasan Uluwatu.

Pak Ketut mengajak kami ke Garuda Wisnu Kencana (GWK), di tempat ini terdapat patung besar yang belum selesai dirangkai. Menurut cerita Pak Ketut, pembuat patung itu telah wafat sebelum menyelesaikannya. Patungnya cukup besar dan terbagi tiga bagian, patung tangan Dewa Wisnu di bagian bawah bukit, patung badan bagian atas Dewa Wisnu dan patung Burung Garuda di bagian atas bukit. Tempat ini cukup indah, hal yang mencengangkan adalah bukit dibelah dengan rapi untuk membentuk jalan dan area wisata.




Patung GWK yang terpisah-pisah


Bukit yang dibelah rapi
  
Setelah dari GWK, kami menuju Pura Uluwatu. Untuk masuk ke pura ini seluruh pengunjung diharuskan memakai selendang untuk diikatkan di badan. Yang menarik dari pura ini adalah letaknya yang berada di tepi tebing yang terjal. Cukup menegangkan untuk melihat pemandangan di bawah tebing dimana terdapat karang yang dihantam ombak yang ganas. Di pura ini terdapat banyak monyet dan terdapat peringatan untuk berhati-hati karena monyet tersebut bisa tiba-tiba mengambil HP, kamera, dan lain-lain dari kita. Sebenarnya di Pura ini dipertunjukkan tarian kecak setiap pukul 19.00 WITA, tapi mengingat kami sudah seharian berjalan dan membawa balita, kami memutuskan untuk langsung menuju hotel pada pukul 18.00 WITA.


Pura Uluwatu di atas tebing

Monyet di Pura Uluwatu

Hari Kedua
Hari kedua kami di Bali kami awali dengan kunjungan ke Tanjung Benoa untuk menikmati water sport. Sungguh hal yang sangat seru, kami pergi menuju Pulau Penyu melihat berbagai hewan yang ada di sana. Ada penyu dengan berbagai usia, mulai dari yang masih bayi sampai dengan penyu yang memiliki rumah berdiameter sekitar 1 meter. Selain penyu, kita dapat melihat iguana, kelelawar, burung rangkoon, burung elang, dan ular di sini. Bahkan, bukan hanya melihat, tapi juga memegang dan berfoto dengan hewan-hewan tersebut.


Penyu berukuran besar

Setelah mengajak para balita ke Pulau Penyu, aku, suamiku, dan Bang Aldo memulai petualangan kami, yaitu diving dan flying fish. Sungguh pengalaman yang luar biasa, mengingat ini memang pertama kalinya bagiku. Diving yang mungkin tidak terlalu sulit, hanya kedalaman 2-3 meter saja, tapi di kedalaman itu kita sudah dapat melihat keindahan karang dan berbagai macam ikan di sana, bahkan kami menemukan ikan Nemo. Sebenarnya kami masih ingin melanjutkan dengan parasailing, tapi karena hari sudah siang dan cuaca agak mendung, parasailing tidak dapat dilakukan.


Diving

Ikan Nemo yang kami lihat saat diving

Selepas dari Tanjung Benoa, kami berniat menuju Tanah Lot, tapi sudah dua jam perjalanan, kami baru sampai di sekitar Bandara I Gusti Ngurah Rai, akhirnya kami mengurungkan niat kami dan mengganti tujuan, yaitu Pantai Kuta dan sekitarnya. Setelah mengambil foto di Pantai Kuta, kami melewati Ground Zero yang merupakan monumen untuk mengenang para korban Bom Bali 1. Sayang sekali hujan deras turun sehingga kami tidak bisa turun dari mobil. Kami pun mengakhiri perjalanan hari ini dan kembali menuju hotel.


Di Panrai Kuta


Hari Ketiga
Setelah sarapan di hotel, kami berangkat menuju daerah Gianyar. Sebelumnya kami menyempatkan diri ke Pantai Sanur untuk mengambil foto. Bali Bird Park menjadi tujuan kami berikutnya. Tempat ini sangat menarik, burung berbagai jenis dari berbagai daerah di dunia ada di sini. Ada burung yang di dalam kandang, dan ada burung yang dilepaskan begitu saja. Tempatnya sangat rimbun sehingga berjalan di dalamnya seperti berjalan di dalam hutan. Kita juga bisa berpose dan berfoto dengan beberapa jenis burung dengan warna yang menarik. Hal yang tidak biasa kita temui sehari-hari, bukan?


Pantai Sanur

Pose bersama burung dari Amerika Latin

Burung yang dibebaskan berjalan

Besama burung nuri

Setelah dari Bali Bird Park, kami menuju Bali Zoo untuk memperkenalkan berbagai jenis hewan kepada Arini dan Dika. Sebenarnya Bali Zoo hampir sama dengan kebun binatang di kota lainnya, tapi di sini kita juga dapat melihat pertunjukkan berbagai jenis burung yang terbang mengikuti instruksi pelatihnya. 


Di pintu masuk Bali Zoo


Makan siang di tepi sawah di Ubud menjadi pilihan kami kali ini. Kesejukan, kedamaian, dan dekat dengan alam menjadi sensasi tersendiri yang diperoleh dari Ubud. Restoran tempat kami makan menyewakan alat pancing sehingga kami dapat memancing ikan dan dapat membawa pulang atau meminta ikan yang kami dapat untuk dimasak. Kami pun mencoba peruntungan kami, hampir saja kami mendapatkan ikan lele paling besar di kolam yang ada, tapi sayang, karena ikan yang besar dan tidak ada jaring yang dapat kami gunakan, tali pancing kami putus dan ikan itupun lepas.


Naturalnya Ubud

Berhubung waktu belum terlalu sore, kami memutuskan untuk pergi ke Tanah Lot. Kedatangan kami disambut rintik hujan, tapi tidak mengurangi keindahan Tanah Lot. Sungguh tak terbayang keindahannya di hari yang cerah dan ombak yang lebih tenang. Aku sungguh jatuh cinta pada tempat ini.


Tanah Lot saat hujan

Hari Keempat
Hari terakhir di Bali, kami kembali ke Tanjung Benoa sambil berharap bisa parasailing, tapi tampaknya Allah belum berkehendak. Mungkin kami harus kembali lagi ke Bali lain waktu untuk parasailing, mudah-mudahan saja. Dari Tanjung Benoa kami bertolak ke Pantai Dreamland, dan di sini pun aku langsung jatuh cinta dengan pantainya. Kini aku mengerti kenapa orang-orang menjadikan Bali sebagai tempat favorit untuk berwisata. Orang yang pernah ke Bali pasti mengetahuinya, dan jika Anda belum ke Bali, percayalah, segera rencanakan perjalanan Anda. Bahkan saya pun ingin kembali lagi dan menjelajahi Bali lebih jauh. 






Indahnya Dreamland

Sebelum pulang, kami menyempatkan untuk membeli oleh-oleh dan segera menuju bandara sekitar tiga jam sebelum penerbangan. Kami khawatir bila tidak datang lebih awal ke bandara, kami akan terjebak macet dan ketinggalan pesawat. Rupanya bukan hanya kami yang berpikiran demikian, banyak orang yang juga seperti kami, akibatnya bandara jadi sangat ramai. Bali sungguh tempat luar biasa, apalagi bila proyek pembangunan jalan tol di Bali sudah rampung dan tidak ada lagi kemacetan di Bali. Aku ingin kembali ke Bali lagi, sungguh ingin kembali lagi!




Minggu, 04 November 2012

Wonderful Yellow Honeymoon in Belitung


Sabtu, 25 Agustus 2012

Tepat enam hari setelah hari raya idul fitri, tersisa dua hari liburan sebelum memulai kembali rutinitas untuk bekerja. Meskipun masih merasa lelah setelah perjalanan empat hari di Singapura dan dua hari di Puncak, sekitar pukul 06.00 pagi, aku dan suamiku sudah bersiap dengan bawaan satu koper untuk menuju Bandara Soekarno-Hatta dengan taksi. Ya, kami siap memulai kembali perjalanan hanya untuk kami berdua saja.

Tujuan kami kali ini adalah Belitung. Alasannya sangat sederhana, bisa dicari dengan mengetikkan kata belitung di halaman Google, apalagi bila melihat foto-fotonya, rasanya tak sabar lagi untuk segera menikmati keindahan alam itu dengan mata kepala sendiri.

Dari Bandara Soekarno-Hatta kami berangkat dengan pesawat pukul 08.30 WIB, sekitar satu jam kemudian kami sudah mendarat di Bandara Has Hanandjoeddin, Tanjung Pandan. Ada peristiwa yang cukup menegangkan setelah turun pesawat. Aku panik ketika tidak menemukan telepon genggamku (HP) di dalam tasku dan seketika aku ingat telah mengeluarkannya dari tas selama penerbangan. Sepertinya memang HPku tertinggal di pesawat. Ternyata kepanikanku terbaca oleh petugas bandara, dia pun dengan sangat ramah menanyakan apa yang terjadi. Setelah itu, dia menghubungi awak pesawat untuk memastikan apakah HPku memang tertinggal di pesawat. Alangkah leganya aku ketika mendengar suara dari Handy Talkie petugas tersebut 
"Oh..iya ada, iphone warna putih..." 
"Oke, segera saya ambil..." balas petugas itu.

Hampir saja liburanku harus rusak karena kehilangan HP, tapi alhamdulillah, HP itu masih rizki-ku. Petugas bandara tadi kembali dengan HP ku, sambil mengembalikannya dia berkata,
"Ini Bu, HPnya, lain kali hati-hati ya...."
"Iya Pak, terima kasih sekali ya Pak..." balasku dengan penuh rasa syukur.

Keluar dari Bandara, aku melihat kertas bertuliskan namaku dari travel agent yang memang sudah kupesan. Tour Guide kami bernama Mas Vicky. Setelah mengenalkan diri, dia segera mengantar kami ke dalam mobil untuk memulai perjalanan. Tujuan pertama kami adalah Tanjung Kelayang.

Belitung kota yang tidak terlalu ramai kendaraan. Dari Bandara menuju Tanjung Kelayang tidak ada lampu merah sama sekali. Menurut informasi Mas Vicky, di Belitung ini hanya ada lima lampu merah saja. Terbayang olehku, betapa kota ini tidak akrab dengan kata kemacetan.

Di sepanjang jalan, banyak terdapat perkebunan sawit, selain itu juga ada lahan-lahan pertambangan. Belitung beserta pulau saudaranya, yaitu Bangka, memang terkenal sebagai daerah penghasil Timah.

Tanjung Kelayang
Sampai di Tanjung Kelayang, terlihat pantai yang panjang dan bersih, air laut pun sangat jernih, keinginan untuk bermain air pun spontan muncul.  Tanjung Kelayang menjadi tempat berlabuhnya kapal-kapal kecil yang biasa membawa wisatawan untuk island hopping seperti yang akan kami lakukan. Kami segera bergegas menaiki kapal agar dapat segera bermain di pulau-pulau yang akan kami kunjungi. Karena paket tour yang kami ambil adalah paket Honeymoon, kapal ini hanya berisi aku dan suamiku di bagian depan kapal menikmati perjalanan, dan Mas Vicky serta seorang nelayan yang mengemudikan kapal di bagian belakang.

Kapal-kapal di Tanjung Kelayang

Pulau Batu Berlayar
Pulau pertama yang kami kunjungi adalah Batu Berlayar. Pulau ini memang berukuran kecil yang hanya terdapat batu yang besar dan pasir saja sehingga dari kapal yang sedang melaju terlihat seperti terdapat batu yang berlayar di tengah laut. Salah satu perbedaan yang membuat pantai-pantai di Belitung unik adalah bebatuan besar yang bertebaran. Di pulau ini kami langsung berfoto-foto bersama bintang laut hidup yang kami temukan di sana.

Bintang laut hidup!

Batu berukuran besar yang terlihat seperti layar dari kejauhan

Pulau Burung
Lepas dari Batu Berlayar, kami menuju Pulau Burung. Nama pulau ini berdasarkan bentuk batu yang terlihat seperti burung yang terdapat di pulau tersebut. Setelah asyik berfoto dan bermain air, tak terasa waktu sudah menunjukkan jam makan siang, Mas Vicky menggelar alas untuk tempat kami makan siang di bawah pohon yang rindang dan memberikan kami masing-masing satu kotak berisi makanan dengan menu lengkap.

Rasanya sempurna berada di pulau indah, sepi, diberi kesempatan untuk kencan dengan piknik makan siang berdua di pinggir pantai. Suasana yang benar-benar mendukung untuk membicarakan hal-hal manis yang mungkin sudah secara umum jarang dilakukan pasangan yang sudah menikah beberapa tahun dan/atau sudah mempunyai anak. 
Pulau Burung nan Indah

Pulau Lengkuas
Lepas dari Pulau Burung, kami menuju Pulau Lengkuas. Di pulau ini terdapat sebuah mecusuar bernama  Enthoven. Pulau ini tak kalah indahnya dengan pulau-pulau lain, tapi lebih ramai. Pulau ini sedikit lebih luas dan hampir seluruh bagian pulau, bebatuan di sekeliling pulau, dan pantai terisi oleh turis lokal dan asing. Kapal-kapal berlabuh dengan rapi di bibir pantai.


Mercusuar Enthoven
Mercusuar Enthoven terdiri dari 18 lantai. Untuk naik ke puncak mercusuar, pengunjung diharuskan membuka alas kaki dan merasakan lembabnya lantai di dalam mercusuar tersebut. Menaiki tangga 18 lantai membuat nafas terengah-engah dan kaki seperti jenuh dengan asam laktat, tapi setelah sampai di puncak, pemandangan yang dilihat sangat sepadan dengan itu semua. Melihat perairan yang jernih di bagian Barat Laut pulau Belitung dengan bebatuan  besar yang bertebaran dan merasakan angin yang lembut menyapa di telinga, membuatku menghirup nafas sedalam-dalamnya, menghembuskannya perlahan-lahan, dan memanjatkan syukur kepada-Nya.

Susunan kapal yang berlabuh dilihat dari puncak mercusuar
Turun dari mercusuar, Mas Vicky sudah menyiapkan dua buah kelapa untuk kami berdua. Kami pun menikmatinya sambil beristirahat. Tanpa sengaja aku mendengar seorang wanita bertanya kepada Mas Vicky,
“Dimana beli kelapa? Boleh saya pesan satu?”
“Maaf Bu, kelapanya kami bawa di pulau lain, khusus untuk tamu kami, di pulau ini tidak ada yang jual kelapa” Jawab Mas Vicky ramah.

Kelapa muda :)
Aku dan suamiku hanya bisa saling menatap dan merasa puas dengan pelayanan yang diberikan dari travel agent yang telah kami pilih.
Setelah selesai menikmati kelapa tersebut, kami bersiap untuk snorkeling di sekitar Pulau Lengkuas.

Siap dengan peralatan snorkeling, kami langsung masuk ke dalam air dan memulai snorkeling. Ternyata keindahan Belitung tidak hanya ada di atas permukaan laut, tapi juga di bawahnya. Banyak ikan dan karang yang indah. Hal yang menarik adalah ketika kita memegang potongan makanan di tangan, ikan-ikan akan berdatangan dan menggerogotinya. Ternyata ikan dapat memakan apapun, mulai dari ayam goreng, tahu, dan pisang. Terkadang ikan salah menggigit tangan kita, tapi hanya akan  terasa geli.

Snorkeling di sekitar Pulau Lengkuas

Pulau Babi
Sebelum menuju hotel, kami berkungjung kedua pulau yang tak kalah indahnya dengan pulau lainnya. Pulau Babi Besar dan Pulau Babi Kecil. Di kedua pulau ini terdapat bebatuan besar yang cocok untuk dijadikan latar foto. Sungguh tempat yang indah untuk menikmati sore hari yang cerah.



Candle Light Dinner
Pukul 07.00 malam, setelah membersihkan diri dan beristirahat sejenak di hotel, kami dijemput Mas Vicky untuk makan malam di Hotel Bahamas. Tiba di hotel tersebut, kami menyadari tidak ada tamu lain selain kami berdua di restoran hotel. Seluruh tamu hotel sedang menikmati santap malam di luar hotel. Eksklusifitas, kami mendapatkannya lagi malam itu. Hal lain yang membuat kami terkejut adalah lokasi makan malam kami, tepat di pinggir pantai dengan angin ramah beratapkan langit dipenuhi bintang dan ditambah dengan cahaya sebatang lilin. Benar-benar tempat yang romantis.
Menu makan malam yang lengkap dan lezat mengiringi obrolan kami yang ringan namun benar-benar dari hati ke hati. Perasaan yang tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata.
Menyantap Appetizer

Tanjung Pendam
Di Belitung ini, kami bermalam di Hotel Grand Hatika yang berada di area wisata Tanjung Pendam. Informasi dari Mas Vicky, kawasan ini merupakan tempat berkumpulnya pemuda-pemudi Belitung bermalam minggu. Di area ini banyak terdapat warung dan kafe yang juga menampilkan hiburan life music, ada yang menampilkan musik pop, ada juga yang menampilkan musik dangdut. Pada malam hari, air laut surut agak jauh dari garis pantai. Sebelum kembali ke hotel, kami duduk di pinggir pantai sekedar mengobrol dan merasa bahagia atas perjalanan ke Belitung ini.

Minggu, 26 Agustus 2012

Setelah check-out dan sarapan pagi dari hotel, kami mampir ke sebuah toko untuk membeli oleh-oleh khas Belitung yang akan kami bawa ke Jakarta. Sebelum melanjutkan perjalanan, kami melihat ikon kota Belitung, yaitu patung batu satam di tengah kota. Mas Vicky menceritakan asal mula nama Belitung berasal dari kata Billitonite (Bahasa Belanda) yang berarti batu satam (batu meteor hitam). Batu satam ini menjadi salah satu souvenir dari Belitung dan beberapa orang percaya bahwa batu ini memiliki kekuatan supranatural.

Tanjung Tinggi
Kami melanjutkan perjalanan menuju pantai Tanjung Tinggi. Pantai ini terkenal setelah menjadi lokasi pembuatan film Laskar Pelangi. Sama seperti Pulau Lengkuas, pantai ini juga cukup ramai dikunjungi orang. Kejernihan airnya membuatku yang semula hanya berniat foto-foto akhirnya memutuskan untuk berenang juga. Selain itu, kami juga bermain perahu Kayak untuk pergi lebih menjauh dari pantai. Selain Kayak, di pantai ini juga menyewakan pelampung, perahu karet, dan lain-lain.

Lokasi syuting Laskar Pelangi 
Langit biru yang cerah
Kayaking

Puas bermain, kami menuju sebuah rumah makan untuk menyantap makan siang. Bagian belakang rumah makan ini masih merupakan Pantai Tanjung Tinggi yang lebih sepi dibandingkan tempat sebelumnya. Aku dan suamiku pun menunda makan siang dan kembali menikmati serunya berenang di pantai dan diterjang ombak. Rasanya tak ingin mengakhiri dua hari yang benar-benar indah ini. Akan tetapi, pesawat pulang tentunya tidak akan menunggu orang yang terlambat. Jadi tidak lama kemudian kami memutuskan untuk membersihkan diri, menyantap makan siang, dan menuju ke bandara untuk kembali ke Jakarta. 


Pantai Tanjung Tinggi

Jakarta
Sampai di Jakarta, kami dijemput Om Asep dari Bandara. Sebelum pulang ke rumah, kami memutuskan untuk menutup liburan indah ini dengan sempurna, yaitu menikmati sushi yang enak di Sushi Tei.

Puas, luar biasa, dan tak terlupakan liburan kami di Belitung walau hanya dua hari. Benar-benar kawasan wisata yang sangat saya rekomendasikan untuk menghilangkan kepenatan dan kebosanan. Selain bersama keluarga dan teman-teman, Belitung juga benar-benar bisa menjadi tempat yang sangat romantis bersama pasangan Anda. Jadi, jika pergi ke Belitung nanti, jangan lupa share ya, agar semakin banyak orang yang tidak melewatkan keindahan tempat ini. :)

Rabu, 13 Juni 2012

Bromo nan Eksotis


Sabtu, 26 May 2012 - Bandung

Di sela-sela kesibukan bekerja sehari-hari, akhirnya kutemukan akhir pekan yang tepat untuk kulewatkan berdua saja dengan suamiku. Bromo menjadi tujuan kami kali ini mengingat cerita sahabat ataupun referensi dari media cetak dan elektronik tentang betapa eksotiknya tempat ini. Setelah dua tahun berkeinginan melakukan perjalanan ini, rasanya masih serasa mimpi bahwa besok aku akan menyaksikan tanda kebesaran Allah bersama teman sejatiku.

Untuk memastikan Arini tidak kesepian karena ditinggal selama dua hari, orang tuaku berjanji akan mengajaknya jalan-jalan. Hal ini menjadi salah satu alasan mengapa petualangan ini dimulai dari Bandung dan bukan dari Jakarta.

Berbekal tiket pesawat yang sudah dipesan dua minggu sebelumnya, kami berangkat dari Bandara Husein Sastranegara pukul 15.45 WIB dan menempuh perjalanan selama  satu jam lima belas menit di udara hingga akhirnya sampai di Bandara Ir. H. Djuanda pukul 17.00. Satu buah tas ransel yang bisa masuk di kabin pesawat cukup membuat praktis dalam perjalanan ini, begitu turun dari pesawat kami langsung mencari penjemput dari travel agent yang kami gunakan.

Dengan Kijang Inova hitam kami diantar ke Bromo Cottage yang ada di lereng Gunung Bromo melalui Pasuruan. Perjalanan ini ditempuh selama empat jam termasuk istirahat makan malam. Sebenarnya perjalanan ini lebih lama dari biasanya dikarenakan pada akhir pekan bayak orang berbondong-bondong meninggalkan Surabaya sehingga jalanan menjadi macet.

Pukul 21.00 WIB kami mulai memasuki jalan berkelok-kelok dan menanjak pertanda kami mulai memasuki area Gunung Bromo. Jendela mobilpun dibuka dan dengan segera udara segar dan dingin mengalir masuk. Aku bersyukur perbekalan kami melawan hawa dingin cukup lengkap mengingat suhu di Bromo bisa mencapai 0 derjat celcius pada Bulan Juli-Agustus. Menurut info driver kami, suhu untuk besok pagi adalah sekitar 10 derajat celcius.

Sesampainya di hotel, kami mendapati pemandangan Kota Pasuruan yang indah yang berbatasan tipis dengan langit malam penuh bintang. Karena terletak di dataran miring, kami harus  menuruni tangga untuk sampai ke kamar. Sebenarnya di hotel ini terdapat fasilitas elevator, tapi kebetulan sekali sedang ada kerusakan. Sayang rasanya tidak dapat mencoba elevator itu, tapi mengetahui ada tempat di Indonesia yang memiliki fasilitas secanggih itu pun aku sudah sangat bangga. Apalagi melihat banyaknya turis asing yang juga menginap di hotel ini, sungguh rasanya ingin aku berkata "Inilah Indonesia, tanah airku yang memiliki alam yang sangat indah dan percayalah Bromo hanyalah satu dari ratusan bahkan ribuan tempat yang harus kau kunjungi karena keindahannya!". Walaupun sebenarnya aku sadar, Indonesia sendiri lah yang seharusnya berbenah menyediakan berbagai fasilitas terbaik untuk pariwisata, tapi aku yakin, pasti bisa!

Minggu, 27 May 2012 - Bromo
Detik - detik terbitnya matahari di Pananjakan

 Pukul 03.30 WIB kami sudah siap di lobi. Sambil menunggu Jeep sewaan datang, kami menyantap secangkir teh hangat yang sudah disediakan oleh hotel. Udara begitu dingin, tapi membayangkan indahnya pemandangan yang akan kusaksikan seketika rasa ingin berselimut di kamar hilang begitu saja.


Warga sekitar rata-rata memiliki jeep untuk disewakan dan ada sebuah paguyuban untuk memastikan penyewaan jeep ini dilakukan bergilir sehingga merata bagi anggotanya. Jeep ini akan membawa kami ke Pananjakan yang ada di ketinggian 2.700 meter di atas permukaan laut kemudian menuju Bromo yang memiliki jalur dengan kemiringan yang tajam sehingga tidak dapat dilalui oleh mobil biasa.


Sekitar 200 meter sebelum sampai di Pananjakan, kami turun dari jeep karena jalanan macet yang disebabkan banyaknya jeep yang akan parkir. Banyak warga yang menawarkan jasa ojeg, tapi sebenarnya kita sama sekali tidak perlu karena jaraknya sangat dekat.

Suasana di Pananjakan begitu ramai dikarenakan hari Minggu. Banyak wisatawan dari daerah Malang yang datang menggunakan motor. Sangat sulit bagi kami untuk menemukan tempat terbaik untuk melihat matahari terbit karena sudah ramai ditempati. Setelah mendapat tempat yang kami rasa paling nyaman, kami pun bersiap menyaksikan matahari untuk mulai menyinari pagi hari. Apa yang kami saksikan sungguhlah luar biasa, langit mulai terlihat cerah setelah bintang besar itu muncul dan  terlihat dataran di bawah kami diselimuti kabut dengan sangat cantik. Betapa bersyukurnya aku menyaksikan fenomena alam ini bersama suami yang sangat aku cintai.
Mobil Jeep yang kami sewa


Setelah menyaksikan matahari terbit, berfoto dengan latar belakang Gunung Bromo dan sekitarnya langsung dilakukan para wisatawan yang ada di Pananjakan pagi itu. Begitu juga dengan kami. Bahkan tour guide kami membawa kami ke tempat yang tersembunyi sehingga sepi dan juga memiliki latar pemandangan yang indah. Puas berfoto-foto kami segera kembali ke jeep dan segera menuju Gunung Bromo.


Foto dengan pelataran Gunung Bromo dari spot tersembunyi


Melewati jalur yang curam, kulihat area Gunung Bromo dengan laut pasir yang diselimuti kabut sangatlah indah. Turun dari Jeep, kami langsung menaiki kuda sewaan yang akan membawa kami kaki Gunung Bromo. Dengan Rp 100.000,00 kita sudah bisa menaiki kuda itu bulak-balik. Sebagai tips, bayarlah tarif tersebut setelah kita sampai di Jeep lagi karena jika tidak, ada beberapa oknum pemilik kuda yang akan meninggalkan kita di kaki Gunung Bromo dan terpaksa kita harus membayar sewa lagi untuk kembali ke Jeep.

                                                                                                        Berkuda di laut pasir
                                         Laut pasir di area Bromo

Di tengah perjalanan kulihat ada pura berdiri. Menurut informasi dari tour guide kami, warga sekitar memang mayoritas penganut agama Hindu. Setiap tahun mereka melaksanakan tradisi Kasodo  dimana warga sekitar Bromo yang merupakan Suku Tengger berbondong-bondong datang ke puncak Gunung Bromo dengan membawa sebagian hasil pertanian yang akan dipersembahkan. Selain itu juga ada tradisi Karo dimana hal yang dilakukan pada dasarnya sama seperti tradisi lebaran di Indonesia, warga saling bersilaturahmi dengan bergantian mengunjungi dari satu desa ke desa lain.

Sampai di kaki gunung, kami menaiki 250 anak tangga untuk sampai di puncak Gunung Bromo. Gunung Bromo merupakan satu-satunya gunung berapi dengan kawah yang sangat lebar di antara gunung-gunung tidak aktif di sekitarnya.  Puas rasanya hati ini bisa berada di sini dan menyaksikan semuanya.

Di puncak Gunung Bromo

                     Pemandangan gunung dan laut pasir dari puncak Gunung Bromo

Setelah turun dari puncak gunung, aku sangat senang karena diberi kesempatan untuk belajar mengendalikan kuda yang kutunggangi. Kuda yang kusewa bernama Wage dan berumur delapan tahun.

       Aku dan Wage


                                                                                                   Berkuda tanpa dipandu

Selesai dari area Gunung Bromo, matahari sudah naik cukup tinggi. Sekitar pukul 08.00 WIB cuaca sudah mulai panas dan kami pun memutuskan umtuk kembali ke hotel dan bersiap kembali ke Surabaya. Hotel di pagi hari ternyata sangat indah, sayang pemandangan Pasuruan yang kulihat semalam tidak dapat kulihat di pagi hari karena tertutup kabut.

Pemandangan indah di penginapan

Jalur elevator dan gambar timbul Gunung Bromo di penginapan











               


Pukul 12.30 WIB kami sudah sampai di Surabaya. Karena penerbangan kami masih pukul 17.45 WIB, kami memutuskan untuk menonton film MIB 3 di bioskop Tunjungan Plaza.

Setelah film selesai, Rumah Makan Bu Rudi menjadi tujuan kami sebelum bandara. Sambal goreng Bu Rudi menjadi pesanan banyak teman di Jakarta sehingga kuputuskan untuk menjadikannya oleh-oleh dari Surabaya.

Sungguh, ini merupakan pengalaman luar biasa bagiku. Tak sabar rasanya hati ini ingin segera menjelajahi keindahan alam Indonesia lainnya. Mudah-mudahan Allah menghendakinya, Amiin.

Pukul 19.00 WIB kami sudah tiba di Bandung. Kami jemput Arini dan langsung meanjutkan perjalanan ke Jakarta dan siap menghadapi rutinitas kembali dengan SEMAGAT!