Kamis, 17 Mei 2012

Sweet Memory from Ciputih

7 April 2012, Sabtu 


Dini hari, pukul 02.00, kami bertiga belas, berangkat dari Cibubur menggunakan 2 mobil menuju Ciputih. Mobil yang kami gunakan adalah mobil Caravelle dan Xenia mengingat saran yang diperoleh dari internet, mobil yang dibawa sebaiknya mobil yang cukup tinggi mengingat jalan ke Ciputih terbilang medan off road. Mobil Caravelle berisikan aku, Arini, Mbak Aya, Kak Febi, Kak Wiwin, Kak Dwi, dan dikemudikan suamiku, sedangkan mobil Xenia berisikan Kak Epul, Kak Deri, Kak Diaz, Kak Guntur, dan dikemudikan oleh Kak Fiyan.


Setelah mengisi bensin full tank, perjalanan dilanjutkan melalui jalan tol dalam kota. Rencananya, dari tol M.T. Haryono, kami akan langsung belok ke tol Jakarta-Merak, tapi di persimpangan tol di daerah Grogol, mobil Xenia yang dikendarai Kak Fiyan terus lurus menuju Tol ke Bandara Soekarno-Hatta padahal beberapa meter sebelumnnya suamiku sudah membunyikan klakson dan menyalakan lampu jarak jauh untuk memberi tanda agar belok ke kiri. Nasi sudah menjadi bubur, akhirnya kami pun ikut mereka lurus dan langsung mengkonfirmasi bahwa jalur kita salah dan harus kembali ke rencana awal. Akhirnya kami sepakat keluar tol di exit terdekat. 


Setelah itu, kami putar balik dan masuk ke dalam tol lagi. Mobil Xenia kembali memimpin perjalanan, setelah masuk tol lagi, kesalahan kembali terjadi, sebelum persimpangan tol, mobil Xenia malah keluar tol di daerah Grogol dan masuk ke jalan Daan Mogot. Demi kesetiakawanan, kami ikuti kesalahan ini. Untungnya di Jalan Daan Mogot ada persimpangan Tol yang bisa tersambung ke Tol Jakarta-Merak. Sepertinya penumpang mobil Xenia memang keasyikan ngobrol dan berisi orang-orang yang agak bingung dengan jalanan Jakarta.


Akhirnya, kami kembali ke jalan yang benar.


Sekitar pukul 5 dini hari, kami berhenti di sebuah surau untuk melaksanakan shalah Subuh. Kami berhenti setelah kota Pandeglang. Jalanan sepi, yang lewat hanya bis dan Truk yang berjalan lambat sehingga kami harus menyalip mobil-mobil tersebut agar perjalanan kami lebih cepat. Pada saat kami melanjutkan perjalanan, hari mulai hujan. Agak mengkhawatirkan, bagaimana mungkin kami datang jauh-jauh ke Ciputih jika sampai sana cuaca tidak mendukung? Akhirnya hanya doa yang terucap, mudah-mudahan saat kami sampai di Ciputih cuaca mendukung untuk kami bermain di pantai.


Perjalanan ini cukup jauh, sekitar pukul 7 kami kesulitan mencari rumah makan untuk tempat sarapan, yang kami temukan hanya Indomaret, jadi kami membeli roti dan susu untuk mengganjal perut. Dari pemberhentian ini, kami sempat bertanya pada penduduk sekitar, seberapa jauh lagi Ciputih. Info dari penduduk tersebut adalah sekitar 1 jam lagi.


Kami melanjutkan perjalanan lagi, jalanan yang kami tempuh mulai banyak lubang di sana-sini. Memang benar, jalanan ini akan sangat sulit dilalui mobil-mobil setinggi sedan. Benar-benar berat medan yang harus kami tempuh, rasanya jalanan itu tidak berujung, lama perjalanan yang katanya 1 jam lagi ternyata harus kami tempuh lebih lama. Di tengah keputusasaan itu, nampak mulai ada secercah harapan setelah melihat pantai dekat dengan pinggir jalan yang kami lewati. Setelah melihat ada penduduk sekitar, kami bertanya di mana tepatnya letak pantai Ciputih, penduduk itu hanya menjawab, masih jauh ke depan Pak! Mendengar jawaban itu, kami hanya bisa mengelus dada. Setelah melewati jalanan rusak lagi, alhamdulillah, sekitar pukul 9.30, kami sampai juga di Ciputih.


Kami lebih bersyukur lagi akan cuaca yang benar-benar cerah ketika kami sampai. Karena belum bisa check-in, kami memutuskan untuk bermain di pantai. Pantainya memang pantas untuk diperjuangkan, pasirnya putih, lautnya biru, ombaknya seru. Setelah berfoto, kami pun langsung bermain ombak.

   
                                   
                                          Pantai Ciputih

Bermain ombak


Tak puas setelah bermain ombak, kami lanjutkan bermain air di kolam renang.
Bermain di kolam renang

Setelah bisa check-in ke kamar, kami segera membersihkan diri. Setelah itu kami memasak nasi dan mie untuk makan siang. Selain itu, kami juga membawa bekal dendeng buatan mama mertuaku untuk makan siang tersebut. Kami memang sengaja tidak membeli makanan dari resort tersebut, karena kami akan mengadakan barbeque di malam hari. Setelah puas mengisi perut, hampir semua langsung tertidur pulas, tapi tidak dengan Arini, justru dia agak rewel dan tidak berhenti menangis. Aku dan suamiku memutuskan untuk mengajak Arini ke pinggir pantai dan duduk di kursi santai dan pada akhirnya kami bertiga tertidur pulas dengan alunan suara ombak.


Malam pun tiba, setelah shalat maghrib, kami semua pergi ke pinggir pantai membawa peralatan barbeque dan bahan makanan. Makanan yang kami bawa adalah jagung, sosis, dan daging steak lengkap dengan saus cabe, barbeque, dan black pepper. Sungguh nikmat rasanya, barbeque di pinggir pantai dengan langit cerah dipenuhi bintang dan bersama teman-teman yang seru. 


Menyalakan bara untuk barbeque
Apalagi bagiku, aku mendapat kejutan besar dari suamiku. Dengan cara yang romantis, dia memberikanku kalung yang indah, hehehe. Alhamdulillah.


8 April 2012, Minggu


Sekitar pukul 7 pagi, kami sudah memesan kapal untuk pergi ke pulau Oar. Akan tetapi, sudah pukul 7.30 kapal tersebut tidak datang juga. Akhirnya kami memutuskan untuk sarapan. Karena perbekalan makanan habis, kami pun berniat membeli sarapan dari restoran di resort ini, tapi karena tidak memberitahu sebelumnya, menu yang tersedia hanya bihun goreng saja.


Setelah sarapan dan kapal datang, kami langsung berangkat ke Pulau Oar dalam 2 group karena kapal yang disewa hanya dapat menampung 5 sampai 6 orang saja (ini dengan maksud menghemat, bila menggunakan kapal yang lebih besar, harga sewanya bisa Rp 1 Juta, sedangan dengan kapal ini hanya Rp 700 Ribu saja).


Di pulau Oar terdapat fasilitas snorkeling dan banana boat. Fasilitas ini kami bayar dengan harga Rp 90 Ribu (RP 25 Ribu untuk masuk ke Pulau Oar, Rp 25 Ribu untuk Snorkeling, dan Rp 40 Ribu untuk banana boat). Selain itu, pantai di Pulau Oar lebih indah bila dibandingkan pantai Ciputih. Di sini, mata kita benar-benar dimanjakan alam. Subhanallah!


Pantai di Pulau Oar
                                                        
 Snorkelling

Banana boat

After that, kita foto-foto. Tentunya gaya wajib adalah foto loncat!!



Setelah semua selesai, sebelum meninggalkan Pulau oar, kami memesan kelapa muda yang diambil penduduk setempat langsung dari pohonnya. Rasanya, segar luar biasa!


Setelah puas bermain dan semakin siangnya hari, kami pun bergegas kembali ke Ciputih untuk bersiap-siap pulang. Akan tetapi, ada sedikit rintangan, rombongan kedua harus kembali dengan memutari suatu pulau terlebih dahulu karena ombak yang besar. Dan akhirnya, baru pukul 2 siang kami check-out dari resort Ciputih.


Sebelum melanjutkan perjalanan pulang, kami mengganjal perut dengan tahu goreng yang kami borong dari tukang gorengan terdekat dari Ciputih mengingat kami belum makan siang dan restoran masih sangat jauh. Benar ssaja, sekitar pukul 5 sore, baru kami menemukan rumah makan dan langsung santap makan siang yang sangat-sangat terlambat.


Tanpa kami pernah ketahui, ternyata perjalanan dari Serang ke Jakarta pada akhir weekend itu sama macetnya dengan perjalanan dari Puncak ke Jakarta di akhir weekend pula. Alhasil, kami harus menghadapi macet yang cukup melelahkan.


Akhirnya, mendekati pukul 11 malam, barulah kami sampai di Jakarta. Perjalanan diatur melalui tol dalam kota, tapi antrian menuju tol dalam kota sangat panjang. Mobil Xenia yang dikemudikan Kak Deri bermaksud untuk mengambil jalur yang sepi untuk ke gerbang tol malah membawa mereka keluar tol. Untuk kali ini, kami yang ada di mobil Caravelle enggan mengikuti kesalahan mereka.


Akhirnya, setelah total 47 jam liburan, sampailah kembali kami di Cibubur dengan selamat. Alhamdulillah, liburan ini benar-benar dapat menyegarkan pikiran. Sekitar pukul 1 dini hari, setelah semua kembali ke rumah masing-masing, aku dan keluarga pun dapat beristirahat dan bersiap untuk aktivitas rutin pada pagi harinya.



Kamis, 09 Juni 2011

Makasih ya Pak

tutkitb 
141 itu sdh termasuk PKK blm?
Me
jadi pkk yang 3 sks itu
nggak masuk sks lulus ataupun sks T
141 itu belum termasuk pkk
tutkitb 
ya udah, berarti emang sdh pas 144
Me
iya
trus, itu saya ubah nggak pak?
jumlah sks lulusnya?
atau dibiarin aja?
nanti saya kasih penjelasan di email
bagaimana?
tutkitb 
ga usah, yg penting kan sdh konfirmasi
Me
ok deh pak
yang penting udah kasih penjelasan ya pak
hehehe
tutkitb 
iya itu yg dimaksud dgn "hubungi Tata Usaha" 
bisa datang langsung ato via YM ini, mana aja yg memungkinkan
Me
iya pak...makasih ya pak
hehe
ngomong2 konfirmasi ini dicatet pak?
hehe...bisi lupa
tutkitb 
prinsipnya, selama mhs mengikuti instruksi, kita akan ngerti. jd ga perlu pake catetan. tp kalo perlu, silakan bawa catetannya. kalo perlu pake materai sekalian 
Me
hehehe
ampun pak....
takut aja pak
tiba2 saya batal lulus gara2 pkk g masuk
hehehe
tutkitb 
tp nilainya sdh tahu kan?
Me
katanya AB
bener nggak pak?
tutkitb 
kok katanya?emang blm liat pake mata kepala sendiri ? 
Me
belum pak
tadi kayaknya udah dicabut
tutkitb 
NIM?
Me
13007102
tutkitb 
kok ga ada NIM 13007102 dgn nama Gitta Pusparini ??? 
Me
hah
?
iya pak
13007102
Gitta Pusparini
tutkitb 
yg ada Ibu Fernando 
dapat AB 
Me
hahahaha
gubrakkk
boleh lah pak
hehe
makasih ya pak
tutkitb 
sama2

Senin, 06 Juni 2011

Bincang SMS di Sore Hari

F : Yang..uda udah di pabrik..kepala rasanya sakiit bgt..puyeng..
G : Buka aja atuh puasanya kalo g kuat,sayang....pusing bgt?kamu g sahur sih tadi
G: Yang,gimana? aku jadi khawatir gini...
F : Gpp kok..masi kuat Insya Allah.. uda bw kerja aj..
G : Emg biasanya kepalanya g dibawa kalo kerja?pantesan rotary g bener2,hahaha peace ah..
F : Sialaan..hehe...

Minggu, 29 Mei 2011

Ampun Bu, Ampun Pak...


Kejadian ini terjadi sekitar 4 tahun yang lalu (waah lama juga ya..) di kampus SMA N 2 Cimahi.

Aku dan sobatku, Hilda punya kebiasaan yang tidak baik untuk ditiru, yaitu membolos pada pelajaran BK. 
Sebenernya memang agak malas kami ikut pelajaran ini, selain karena pelajarannya hanya 1 jam, pelajaran ini juga mulai setelah jam istirahat. Seringnya sih kami teruskan saja istirahatnya daripada masuk kelas. Intinya, tidak ada pembelaan deh, aku sadar membolos itu salah.

Me & Hilda
Setelah beberapa minggu kejadian ini terus berlanjut, akhirnya kami memutuskan untuk masuk kelas karena merasa berdosa. Akan tetapi, seketika niat itu batal gara-gara teman kami, yang biasanya dia adalah siswi rajin, tapi nampaknya hari itu dia sedang di luar kebiasaannya. Dia mengajak kami bolos. Aku dan Hilda saling berpandangan bimbang. Kami pikir, alangkah tidak sopannya kalau kami masuk kelas dan teman kami ini bolos. Akhirnya kami pun ikut bolos.

Kami pergi ke kantin di belakang kelas kami, di meja kantin, kami mengisi waktu dengan mengerjakan pr kimia.
"aku bolos terus tapi nggak pernah ketauan ih, kalo ketauan gimana ya??" ucapku.
Kami hanya tertawa dan berharap itu tidak terjadi. Lalu tidak lama kemudian, teman sekelas kami, Maulana ikut bergabung dengan kami setelah melihat kami tidak masuk kelas, padahal tadinya dia mau masuk kelas.
Kami berempat pun belajar sambil berbincang-bincang.

Tiba-tiba kami dikejutkan dengan sesosok pria yang muncul tiba-tiba di meja kami. Dia adalah guru fisika kami yang juga tim buser anak-anak yang melanggar peraturan.
"Nah ya...ketauan ya...." gila, aku masih ingat apa yang diucapkannya.

Kami berempat pun kaget dan hanya bisa terdiam.
"Udah mulai nakal ya, kalian, hayo..lagi pelajaran apa di kelas kalian?" Sebenarnya kami memang biasa tergolong anak baik.
"BK pak.." jawab Maulana.
Aku, Hilda, dan Maulana hanya bisa tersenyum malu karena ketahuan. Lalu guru fisika kami berkata
"Hayo, masuk kelas, nanti saya lapor sama guru BK kalian.."
Kami bertiga benar-benar hanya bisa tersenyum, tapi teman kami matanya sudah berkaca-kaca.
"Jangan atuh bapak..." matanya sudah berkaca-kaca, suaranya bergetar.
"Jangan nangis, nggak apa-apa kok.." Hilda coba menenangkan teman kami.
"Apanya yang nggak apa-apa...enak aja..." Guru fisika kami langsung memotong, lalu dia pun berlalu.

Ternyata ini rasanya ketahuan bolos, rasanya malu, takut...huwaaa..rasanya ingin kutarik kembali kata-kataku di awal.

Aku, Hilda, dan Maulana terima-terima saja kalau kami kena hukuman, tapi aku kasian dengan teman kami. Dia anak yang baik, baru bolos sekali ini, tapi harus ketahuan. 

Tidak lama kemudian, guru BK kami pun datang dan menceramahi kami. Kami malah cengar-cengir, memang mungkin kami sedang badung-badungnya. Maafkan kami ya, bu.


Minggu, 22 Mei 2011

Petualangan Arini

Sabtu, 21 Mei 2011

Aku dan suamiku ngajak Arini, anak kami ke BIP biar dia nggak bosen di rumah terus. Eehh..baru sampe jalan tol, Arini udah bobo...

Arini kalo bobo sukanya sambil tengkurep
Padahal pengen foto di Photo box, akhirnya abis muter-muter nggak jelas Arini melek, langsung kita buru-buru ke photo box. Ini fotonya, sayang nggak ada soft file - nya.

Arini senyum!!! How cute she is...
Tapi...Arini langsung tidur lagi, habis sampai di rumah baru deh dia melek. Dasar bocah, diajak jalan-jalan malah tidur.

Minggu, 22 Mei 2011

Kita bertiga ke Gasibu dianter bapakku. Di Gasibu, Arini nyenyak aja tidur sambil digendong, padahal suasananya udah panas nggak karuan sampe aku dan suamiku nggak tahan kepanasan. Akhirnya kita mutusin buat pindah tempat, kita ke Mang Oyo naek angkot. Eeehh, ternyata Arini ikut sarapan, aku ama suamiku makan bubur, dia minum ASI dari botol.

Habis itu, kita bingung mau kemana, akhirnya kita mutusin ke Kebon Binatang Bandung karena deket. Wiih...adem banget di Bonbin, suamiku yang baru pertama kali ke Bonbin Bandung pun langsung betah gitu, dia sampe beli kacang buat gajah ama monyet.

Tapi emang dasar bocah, Arini masih aja tidur, jadi sebenernya sih ini nganterin suamiku aja yang keliatan "excited' banget. Abis cape muter-muter, kita istirahat dan sempet ambil foto pas Arini melek sebentar.

Di Bonbin
Pas di kandang ular, aku rada bergidik pas liat banyak ular kecil di satu lubang kecil. Hii...nggak suka liatnya, tapi pas liat ada bapak-bapak bawa ular sanca gede buat difoto, aku jadi kepengen. Akhirnya aku minta difoto, walaupun serem, tapi aku pengen sekali seumur hidup difoto ama ular (biar gaya gitu). Ini fotonya

Rasanya pengen cepet-cepet selesai difoto
Habis selesai difoto, rasanya masih geli aja...ampe gemeteran lutut rasanya.
Siangnya, kita pulang naek kereta. Arini masih aja tidur.
Gimana sih kamu, nak..diajak jalan-jalan malah tidur melulu.
Mudah-mudahan pas kamu gede nanti kamu baca tulisan ini dan tahu kamu udah diajak kemana aja, ya....

Jumat, 20 Mei 2011

J O R R

Aku dan suamiku tinggal di daerah Cibubur. Daerah ini kami pilih karena dekat dengan tempat kerja suamiku (di Gunung Putri). Sudah hampir 4 bulan kami tinggal di sana, tapi sekarang rumah itu sering ditinggal karena aku yang harus mengejar cita-cita akademikku di Bandung dan suamiku yang tidak tahan ditinggal sendiri. Ya, aku tinggal di Bandung dalam waktu sekitar sebulan lebih (Mei - Juni) dan suamiku pulang ke rumah orang tuanya di Jatibening.

Sejak dulu, suamiku pulang pergi Gunung Putri - Jatibening lewat tol JORR (Jakarta Outer Ring Road) karena lewat tol kota dan tol jagorawi pasti macet di setiap jam berangkat dan pulang kantor walaupun akan lebih dekat dan lebih murah. Rute lewat JORR ini memang menguntungkan buat dia, kecepatan mobil bisa sampai 100 km/jam dan memang dekat dari Jatibening.

Bulan Mei ini suasana agak sedikit berubah karena ada KTT ASEAN di Jakarta. Bus dan Truk dilarang melewati tol dalam kota Jakarta puku 05.00 s.d. 22.00 WIB. Ternyata kegiatan itu diulangi lagi sebagai uji coba agar tol dalam kota menjadi tidak macet.

Melihat perbedaan ini, saat aku berkunjung ke Cibubur aku bertanya pada suamiku
"Sekarang truk lewat JORR semua ya?" sambil melihat polisi yang berjaga di jalan masuk JORR.
"Iya..kan nggak boleh lewat tol kota". Jawabnya sambil nyetir.
"Trus, efeknya apa?"
"Iya...sekarang JORR nya jadi macet nih, Uda pulang tiap hari  jadi lama gara-gara macet..rame ama truk sih tolnya..." saat bilang ini, dia menunjukkan muka yang kesal.
"Trus, di tol dalam kota jadi nggak macet dong??"
"iya..tol kota jadinya lowong banget....." makin kesel aja dia kayaknya.

Akhirnya kami kembali terdiam dan sibuk dengan pikiran masing-masing, aku tidak tahu apa yang dia pikirkan, tapi yang ada di pikiranku adalah malang benar nasib suamiku, setiap hari harus menghadapi kemacetan padahal biasanya dia biasa ngebut di JORR. Lalu aku menjadi heran dan langsung kuungkapkan keherananku.
"Trus, kok kamu lewat JORR?? kenapa ngak lewat tol dalam kota??"
Suamiku tidak menjawab, hanya saja mukanya menjadi merah, terbentuk senyum malu, dan tidak mau menatapku (memang dia lagi nyetir sih). Aku mengerti apa yang dia maksud.
"Ya ampun....ckckck...lewat tol kota kan lebih deket, lebih murah lagi, udah gitu sekarang nggak macet.....hahaha...nggak ngerti deh ama jalan pikiran kamu....."

Beberapa minggu kemudian, saat dia dalam perjalanan pulang kantor, dia meneleponku, di sela-sela pembicaraan aku bertanya,
"udah sampai mana?"
"baru masuk JORR nih..."
aku pun kaget "hah??kok lewat JORR sih??"
suamiku diam sejenak (lumayan lama sebenarnya) lalu berkata "berisik loe....hahahaha......nggak usah dibahas ah..", aku hanya tersenyum mendengarnya.

Suamiku, kamu cinta JORR banget, ya??

Minggu, 16 Januari 2011

Aku, suamiku, calon anakku, dan the poor Vario

14, 15, dan 16 Januari 2011

Weekend ketiga tahun ini...
Pertama-tama berencana pergi ke Bali berdua (eh, bertiga), tapi ternyata rencana tersebut harus batal dari realisasinya karena berbagai hal. Yup, ini gara-gara:

  1. Mau naik Cipaganti Travel dari Bandung langsung ke Bali...eehh...ternyata nggak ada rute langsung ke Bali, jadi harus nyambung-nyambung dari Bandung ke Semarang, terus ke Surabaya, baru ke Bali. Rasanya nggak efektif deh. OK, nggak apa-apa...masih ada alat transoprtasi lain kan??
  2. Naik pesawat aja. Kita search aja tiket PP, kalo diakal-akalin bisa dapet Rp 1 juta lah per orang tiketnya. Ok, we took that. So, kita mau ambil pergi Jumat, pulang Senin. Ternyata, yang Jumat penuh!! Ya udah, pergi Sabtu masih bisa lha ya. Ternyata jam penerbangannya yang nggak bagus, cuman ada Sabtu sore, nggak seru banget kayaknya kalo cuman sebentar, ditambah kita mau pulang Senin malem, males  rasanya kalo harus chek out dari hotel sebelum jam 12, terus disambung jalan-jalan sambil bawa-bawa tas. Helllllooo.....I'm the pregnant woman!!
  3. Dan akhirnya, alasan yang benar-benar membuat kita mengurungkan niat pergi ke Bali adalah pada Selasa (12/01) malam, Mama masuk RS dan harus dirawat sampai hari Kamis (14/01)...Ya sudah lha, ya....
OK...Bali kejauhan dan akhirnya kita memutuskan untuk menghabiskan weekend di.......RUMAH!!!!
Hehe..nggak di rumah banget sih.

Hari Jumat setelah menjadi sampah masyarakat dengan hanya tidur-tiduran di rumah, sorenya kita pergi ke Kota Baru Parahyangan, mau coba mainan helikopter yang baru berumur seminggu dan belum pernah ke luar rumah. Setelah dapet spot yang dirasa cukup bagus, suamiku mulai beraksi dan dengan asyiknya main sendirian...aku nunggu di deket mobil, tapi nggak lama kemudian, dia balik dengan tampang kayak nggak makan 4 hari, dan dengan lemasnya dia berkata "Baling-balingnya patah satu..." dan aku cuman bisa senyum-senyum dongkol. Ya, baru seminggu dan harganya mahal pula. Oh, my dear....
Daripada sedih-sedihan, akhirnya kita memutuskan buat makan di Bale Pare, makan steak, spageti, french fries, sosis, dan minum jus strawberry sama moka. Alhamdulillah, makanannya cukup menghibur dan membuat kita pulang ke rumah dengan tidak terlalu sedih.

Hari Sabtu, aku bantu mama nyetrika baju yang setumpuk, sementara Dulesem (panggilan sayang buat suamiku) main bulutangkis sama papa dan tetangga-tetangga. Untuk hari ini, kita punya rencana malam mingguan dengan romantic dinner. Aku rekomendasikan The View di Dago karena tempatnya romantis banget. Akhirnya kita berdua pergi dengan dandanan rapih, aku juga pakai dress baru, to the max deh pokoknya. Di jalan ternyata macet, biasa lah Bandung, setelah hampir 2 jam, sampailah kita di Dago Pakar, dan ternyata secara nggak sadar kita ngelewatin The View, langsung kita muter balik, ternyata pas dicari...The View hanyalah tinggal restoran gelap tak berpenghuni...bener-bener gelap...OMG, apa restoran ini bangkrut?!?!?! Kecewa, kecewa, kecewa, malu, malu, malu! Padahal Suamiku udah laper setengah hidup gitu. Akhirnya, kita pilih Valley Suki. Ya, dengan berharap makan romantis, akhirnya kita malah makan di tempat yang kita masak sendiri dan harus jadi maruk sesaat. Tapi, toh kita tetap senang karena bisa nge-"date".

Hari Minggu, setelah tidur ala kucing sampai siang, kita belanja makanan di Borma, terus makan Bakso di Tagog, Padalarang. Hihihi...suamiku suka lho sama baksonya! Pas mau pulang, kita akhirnya ngobrol-ngobrol dan memutuskan ke Ciburuy lewat Lebak Gede (Jalan sempit, tanah becek, kanan sungai, kiri sawah). Vario pun harus jadi korban. Dia berulang kali slip, aku yang berperut besar dan tak berdaya hanya bisa menyaksikan suamiku berjuang ngangkat-ngangkat motor yang terjebak di kubangan. Berkali-kali! Dan aku...hanya bisa tertawa. Akhirnya setelah perjalanan jauh, kita sampai juga di Ciburuy dan menikmati pemandangan sejenak. Sambil mengingat perjalanan gila yang baru saja dilalui. Vario yang dibawa dari rumah dalam keadaan bersih pun, harus dibawa pulang dalam keadaan sangat kotor (penuh tanah basah). Tapi, itu pengalaman menyenangkan, udah lama rasanya nggak melakukan hal-hal gila bersama. Selain itu, si helikopter udah fit lagi dengan bantuan superglue dan bisa terbang dengan baik. :)

Ok...minggu depan rencananya kita mau cari rumah kontrakan di daerah Cibubur/Cikeas. Mudah-mudahan saja rencananya lancar. Amiiin...

I Love U, my husband, my baby, and also you, Vario...