Rabu, 13 Juni 2012

Bromo nan Eksotis


Sabtu, 26 May 2012 - Bandung

Di sela-sela kesibukan bekerja sehari-hari, akhirnya kutemukan akhir pekan yang tepat untuk kulewatkan berdua saja dengan suamiku. Bromo menjadi tujuan kami kali ini mengingat cerita sahabat ataupun referensi dari media cetak dan elektronik tentang betapa eksotiknya tempat ini. Setelah dua tahun berkeinginan melakukan perjalanan ini, rasanya masih serasa mimpi bahwa besok aku akan menyaksikan tanda kebesaran Allah bersama teman sejatiku.

Untuk memastikan Arini tidak kesepian karena ditinggal selama dua hari, orang tuaku berjanji akan mengajaknya jalan-jalan. Hal ini menjadi salah satu alasan mengapa petualangan ini dimulai dari Bandung dan bukan dari Jakarta.

Berbekal tiket pesawat yang sudah dipesan dua minggu sebelumnya, kami berangkat dari Bandara Husein Sastranegara pukul 15.45 WIB dan menempuh perjalanan selama  satu jam lima belas menit di udara hingga akhirnya sampai di Bandara Ir. H. Djuanda pukul 17.00. Satu buah tas ransel yang bisa masuk di kabin pesawat cukup membuat praktis dalam perjalanan ini, begitu turun dari pesawat kami langsung mencari penjemput dari travel agent yang kami gunakan.

Dengan Kijang Inova hitam kami diantar ke Bromo Cottage yang ada di lereng Gunung Bromo melalui Pasuruan. Perjalanan ini ditempuh selama empat jam termasuk istirahat makan malam. Sebenarnya perjalanan ini lebih lama dari biasanya dikarenakan pada akhir pekan bayak orang berbondong-bondong meninggalkan Surabaya sehingga jalanan menjadi macet.

Pukul 21.00 WIB kami mulai memasuki jalan berkelok-kelok dan menanjak pertanda kami mulai memasuki area Gunung Bromo. Jendela mobilpun dibuka dan dengan segera udara segar dan dingin mengalir masuk. Aku bersyukur perbekalan kami melawan hawa dingin cukup lengkap mengingat suhu di Bromo bisa mencapai 0 derjat celcius pada Bulan Juli-Agustus. Menurut info driver kami, suhu untuk besok pagi adalah sekitar 10 derajat celcius.

Sesampainya di hotel, kami mendapati pemandangan Kota Pasuruan yang indah yang berbatasan tipis dengan langit malam penuh bintang. Karena terletak di dataran miring, kami harus  menuruni tangga untuk sampai ke kamar. Sebenarnya di hotel ini terdapat fasilitas elevator, tapi kebetulan sekali sedang ada kerusakan. Sayang rasanya tidak dapat mencoba elevator itu, tapi mengetahui ada tempat di Indonesia yang memiliki fasilitas secanggih itu pun aku sudah sangat bangga. Apalagi melihat banyaknya turis asing yang juga menginap di hotel ini, sungguh rasanya ingin aku berkata "Inilah Indonesia, tanah airku yang memiliki alam yang sangat indah dan percayalah Bromo hanyalah satu dari ratusan bahkan ribuan tempat yang harus kau kunjungi karena keindahannya!". Walaupun sebenarnya aku sadar, Indonesia sendiri lah yang seharusnya berbenah menyediakan berbagai fasilitas terbaik untuk pariwisata, tapi aku yakin, pasti bisa!

Minggu, 27 May 2012 - Bromo
Detik - detik terbitnya matahari di Pananjakan

 Pukul 03.30 WIB kami sudah siap di lobi. Sambil menunggu Jeep sewaan datang, kami menyantap secangkir teh hangat yang sudah disediakan oleh hotel. Udara begitu dingin, tapi membayangkan indahnya pemandangan yang akan kusaksikan seketika rasa ingin berselimut di kamar hilang begitu saja.


Warga sekitar rata-rata memiliki jeep untuk disewakan dan ada sebuah paguyuban untuk memastikan penyewaan jeep ini dilakukan bergilir sehingga merata bagi anggotanya. Jeep ini akan membawa kami ke Pananjakan yang ada di ketinggian 2.700 meter di atas permukaan laut kemudian menuju Bromo yang memiliki jalur dengan kemiringan yang tajam sehingga tidak dapat dilalui oleh mobil biasa.


Sekitar 200 meter sebelum sampai di Pananjakan, kami turun dari jeep karena jalanan macet yang disebabkan banyaknya jeep yang akan parkir. Banyak warga yang menawarkan jasa ojeg, tapi sebenarnya kita sama sekali tidak perlu karena jaraknya sangat dekat.

Suasana di Pananjakan begitu ramai dikarenakan hari Minggu. Banyak wisatawan dari daerah Malang yang datang menggunakan motor. Sangat sulit bagi kami untuk menemukan tempat terbaik untuk melihat matahari terbit karena sudah ramai ditempati. Setelah mendapat tempat yang kami rasa paling nyaman, kami pun bersiap menyaksikan matahari untuk mulai menyinari pagi hari. Apa yang kami saksikan sungguhlah luar biasa, langit mulai terlihat cerah setelah bintang besar itu muncul dan  terlihat dataran di bawah kami diselimuti kabut dengan sangat cantik. Betapa bersyukurnya aku menyaksikan fenomena alam ini bersama suami yang sangat aku cintai.
Mobil Jeep yang kami sewa


Setelah menyaksikan matahari terbit, berfoto dengan latar belakang Gunung Bromo dan sekitarnya langsung dilakukan para wisatawan yang ada di Pananjakan pagi itu. Begitu juga dengan kami. Bahkan tour guide kami membawa kami ke tempat yang tersembunyi sehingga sepi dan juga memiliki latar pemandangan yang indah. Puas berfoto-foto kami segera kembali ke jeep dan segera menuju Gunung Bromo.


Foto dengan pelataran Gunung Bromo dari spot tersembunyi


Melewati jalur yang curam, kulihat area Gunung Bromo dengan laut pasir yang diselimuti kabut sangatlah indah. Turun dari Jeep, kami langsung menaiki kuda sewaan yang akan membawa kami kaki Gunung Bromo. Dengan Rp 100.000,00 kita sudah bisa menaiki kuda itu bulak-balik. Sebagai tips, bayarlah tarif tersebut setelah kita sampai di Jeep lagi karena jika tidak, ada beberapa oknum pemilik kuda yang akan meninggalkan kita di kaki Gunung Bromo dan terpaksa kita harus membayar sewa lagi untuk kembali ke Jeep.

                                                                                                        Berkuda di laut pasir
                                         Laut pasir di area Bromo

Di tengah perjalanan kulihat ada pura berdiri. Menurut informasi dari tour guide kami, warga sekitar memang mayoritas penganut agama Hindu. Setiap tahun mereka melaksanakan tradisi Kasodo  dimana warga sekitar Bromo yang merupakan Suku Tengger berbondong-bondong datang ke puncak Gunung Bromo dengan membawa sebagian hasil pertanian yang akan dipersembahkan. Selain itu juga ada tradisi Karo dimana hal yang dilakukan pada dasarnya sama seperti tradisi lebaran di Indonesia, warga saling bersilaturahmi dengan bergantian mengunjungi dari satu desa ke desa lain.

Sampai di kaki gunung, kami menaiki 250 anak tangga untuk sampai di puncak Gunung Bromo. Gunung Bromo merupakan satu-satunya gunung berapi dengan kawah yang sangat lebar di antara gunung-gunung tidak aktif di sekitarnya.  Puas rasanya hati ini bisa berada di sini dan menyaksikan semuanya.

Di puncak Gunung Bromo

                     Pemandangan gunung dan laut pasir dari puncak Gunung Bromo

Setelah turun dari puncak gunung, aku sangat senang karena diberi kesempatan untuk belajar mengendalikan kuda yang kutunggangi. Kuda yang kusewa bernama Wage dan berumur delapan tahun.

       Aku dan Wage


                                                                                                   Berkuda tanpa dipandu

Selesai dari area Gunung Bromo, matahari sudah naik cukup tinggi. Sekitar pukul 08.00 WIB cuaca sudah mulai panas dan kami pun memutuskan umtuk kembali ke hotel dan bersiap kembali ke Surabaya. Hotel di pagi hari ternyata sangat indah, sayang pemandangan Pasuruan yang kulihat semalam tidak dapat kulihat di pagi hari karena tertutup kabut.

Pemandangan indah di penginapan

Jalur elevator dan gambar timbul Gunung Bromo di penginapan











               


Pukul 12.30 WIB kami sudah sampai di Surabaya. Karena penerbangan kami masih pukul 17.45 WIB, kami memutuskan untuk menonton film MIB 3 di bioskop Tunjungan Plaza.

Setelah film selesai, Rumah Makan Bu Rudi menjadi tujuan kami sebelum bandara. Sambal goreng Bu Rudi menjadi pesanan banyak teman di Jakarta sehingga kuputuskan untuk menjadikannya oleh-oleh dari Surabaya.

Sungguh, ini merupakan pengalaman luar biasa bagiku. Tak sabar rasanya hati ini ingin segera menjelajahi keindahan alam Indonesia lainnya. Mudah-mudahan Allah menghendakinya, Amiin.

Pukul 19.00 WIB kami sudah tiba di Bandung. Kami jemput Arini dan langsung meanjutkan perjalanan ke Jakarta dan siap menghadapi rutinitas kembali dengan SEMAGAT!

Kamis, 17 Mei 2012

Sweet Memory from Ciputih

7 April 2012, Sabtu 


Dini hari, pukul 02.00, kami bertiga belas, berangkat dari Cibubur menggunakan 2 mobil menuju Ciputih. Mobil yang kami gunakan adalah mobil Caravelle dan Xenia mengingat saran yang diperoleh dari internet, mobil yang dibawa sebaiknya mobil yang cukup tinggi mengingat jalan ke Ciputih terbilang medan off road. Mobil Caravelle berisikan aku, Arini, Mbak Aya, Kak Febi, Kak Wiwin, Kak Dwi, dan dikemudikan suamiku, sedangkan mobil Xenia berisikan Kak Epul, Kak Deri, Kak Diaz, Kak Guntur, dan dikemudikan oleh Kak Fiyan.


Setelah mengisi bensin full tank, perjalanan dilanjutkan melalui jalan tol dalam kota. Rencananya, dari tol M.T. Haryono, kami akan langsung belok ke tol Jakarta-Merak, tapi di persimpangan tol di daerah Grogol, mobil Xenia yang dikendarai Kak Fiyan terus lurus menuju Tol ke Bandara Soekarno-Hatta padahal beberapa meter sebelumnnya suamiku sudah membunyikan klakson dan menyalakan lampu jarak jauh untuk memberi tanda agar belok ke kiri. Nasi sudah menjadi bubur, akhirnya kami pun ikut mereka lurus dan langsung mengkonfirmasi bahwa jalur kita salah dan harus kembali ke rencana awal. Akhirnya kami sepakat keluar tol di exit terdekat. 


Setelah itu, kami putar balik dan masuk ke dalam tol lagi. Mobil Xenia kembali memimpin perjalanan, setelah masuk tol lagi, kesalahan kembali terjadi, sebelum persimpangan tol, mobil Xenia malah keluar tol di daerah Grogol dan masuk ke jalan Daan Mogot. Demi kesetiakawanan, kami ikuti kesalahan ini. Untungnya di Jalan Daan Mogot ada persimpangan Tol yang bisa tersambung ke Tol Jakarta-Merak. Sepertinya penumpang mobil Xenia memang keasyikan ngobrol dan berisi orang-orang yang agak bingung dengan jalanan Jakarta.


Akhirnya, kami kembali ke jalan yang benar.


Sekitar pukul 5 dini hari, kami berhenti di sebuah surau untuk melaksanakan shalah Subuh. Kami berhenti setelah kota Pandeglang. Jalanan sepi, yang lewat hanya bis dan Truk yang berjalan lambat sehingga kami harus menyalip mobil-mobil tersebut agar perjalanan kami lebih cepat. Pada saat kami melanjutkan perjalanan, hari mulai hujan. Agak mengkhawatirkan, bagaimana mungkin kami datang jauh-jauh ke Ciputih jika sampai sana cuaca tidak mendukung? Akhirnya hanya doa yang terucap, mudah-mudahan saat kami sampai di Ciputih cuaca mendukung untuk kami bermain di pantai.


Perjalanan ini cukup jauh, sekitar pukul 7 kami kesulitan mencari rumah makan untuk tempat sarapan, yang kami temukan hanya Indomaret, jadi kami membeli roti dan susu untuk mengganjal perut. Dari pemberhentian ini, kami sempat bertanya pada penduduk sekitar, seberapa jauh lagi Ciputih. Info dari penduduk tersebut adalah sekitar 1 jam lagi.


Kami melanjutkan perjalanan lagi, jalanan yang kami tempuh mulai banyak lubang di sana-sini. Memang benar, jalanan ini akan sangat sulit dilalui mobil-mobil setinggi sedan. Benar-benar berat medan yang harus kami tempuh, rasanya jalanan itu tidak berujung, lama perjalanan yang katanya 1 jam lagi ternyata harus kami tempuh lebih lama. Di tengah keputusasaan itu, nampak mulai ada secercah harapan setelah melihat pantai dekat dengan pinggir jalan yang kami lewati. Setelah melihat ada penduduk sekitar, kami bertanya di mana tepatnya letak pantai Ciputih, penduduk itu hanya menjawab, masih jauh ke depan Pak! Mendengar jawaban itu, kami hanya bisa mengelus dada. Setelah melewati jalanan rusak lagi, alhamdulillah, sekitar pukul 9.30, kami sampai juga di Ciputih.


Kami lebih bersyukur lagi akan cuaca yang benar-benar cerah ketika kami sampai. Karena belum bisa check-in, kami memutuskan untuk bermain di pantai. Pantainya memang pantas untuk diperjuangkan, pasirnya putih, lautnya biru, ombaknya seru. Setelah berfoto, kami pun langsung bermain ombak.

   
                                   
                                          Pantai Ciputih

Bermain ombak


Tak puas setelah bermain ombak, kami lanjutkan bermain air di kolam renang.
Bermain di kolam renang

Setelah bisa check-in ke kamar, kami segera membersihkan diri. Setelah itu kami memasak nasi dan mie untuk makan siang. Selain itu, kami juga membawa bekal dendeng buatan mama mertuaku untuk makan siang tersebut. Kami memang sengaja tidak membeli makanan dari resort tersebut, karena kami akan mengadakan barbeque di malam hari. Setelah puas mengisi perut, hampir semua langsung tertidur pulas, tapi tidak dengan Arini, justru dia agak rewel dan tidak berhenti menangis. Aku dan suamiku memutuskan untuk mengajak Arini ke pinggir pantai dan duduk di kursi santai dan pada akhirnya kami bertiga tertidur pulas dengan alunan suara ombak.


Malam pun tiba, setelah shalat maghrib, kami semua pergi ke pinggir pantai membawa peralatan barbeque dan bahan makanan. Makanan yang kami bawa adalah jagung, sosis, dan daging steak lengkap dengan saus cabe, barbeque, dan black pepper. Sungguh nikmat rasanya, barbeque di pinggir pantai dengan langit cerah dipenuhi bintang dan bersama teman-teman yang seru. 


Menyalakan bara untuk barbeque
Apalagi bagiku, aku mendapat kejutan besar dari suamiku. Dengan cara yang romantis, dia memberikanku kalung yang indah, hehehe. Alhamdulillah.


8 April 2012, Minggu


Sekitar pukul 7 pagi, kami sudah memesan kapal untuk pergi ke pulau Oar. Akan tetapi, sudah pukul 7.30 kapal tersebut tidak datang juga. Akhirnya kami memutuskan untuk sarapan. Karena perbekalan makanan habis, kami pun berniat membeli sarapan dari restoran di resort ini, tapi karena tidak memberitahu sebelumnya, menu yang tersedia hanya bihun goreng saja.


Setelah sarapan dan kapal datang, kami langsung berangkat ke Pulau Oar dalam 2 group karena kapal yang disewa hanya dapat menampung 5 sampai 6 orang saja (ini dengan maksud menghemat, bila menggunakan kapal yang lebih besar, harga sewanya bisa Rp 1 Juta, sedangan dengan kapal ini hanya Rp 700 Ribu saja).


Di pulau Oar terdapat fasilitas snorkeling dan banana boat. Fasilitas ini kami bayar dengan harga Rp 90 Ribu (RP 25 Ribu untuk masuk ke Pulau Oar, Rp 25 Ribu untuk Snorkeling, dan Rp 40 Ribu untuk banana boat). Selain itu, pantai di Pulau Oar lebih indah bila dibandingkan pantai Ciputih. Di sini, mata kita benar-benar dimanjakan alam. Subhanallah!


Pantai di Pulau Oar
                                                        
 Snorkelling

Banana boat

After that, kita foto-foto. Tentunya gaya wajib adalah foto loncat!!



Setelah semua selesai, sebelum meninggalkan Pulau oar, kami memesan kelapa muda yang diambil penduduk setempat langsung dari pohonnya. Rasanya, segar luar biasa!


Setelah puas bermain dan semakin siangnya hari, kami pun bergegas kembali ke Ciputih untuk bersiap-siap pulang. Akan tetapi, ada sedikit rintangan, rombongan kedua harus kembali dengan memutari suatu pulau terlebih dahulu karena ombak yang besar. Dan akhirnya, baru pukul 2 siang kami check-out dari resort Ciputih.


Sebelum melanjutkan perjalanan pulang, kami mengganjal perut dengan tahu goreng yang kami borong dari tukang gorengan terdekat dari Ciputih mengingat kami belum makan siang dan restoran masih sangat jauh. Benar ssaja, sekitar pukul 5 sore, baru kami menemukan rumah makan dan langsung santap makan siang yang sangat-sangat terlambat.


Tanpa kami pernah ketahui, ternyata perjalanan dari Serang ke Jakarta pada akhir weekend itu sama macetnya dengan perjalanan dari Puncak ke Jakarta di akhir weekend pula. Alhasil, kami harus menghadapi macet yang cukup melelahkan.


Akhirnya, mendekati pukul 11 malam, barulah kami sampai di Jakarta. Perjalanan diatur melalui tol dalam kota, tapi antrian menuju tol dalam kota sangat panjang. Mobil Xenia yang dikemudikan Kak Deri bermaksud untuk mengambil jalur yang sepi untuk ke gerbang tol malah membawa mereka keluar tol. Untuk kali ini, kami yang ada di mobil Caravelle enggan mengikuti kesalahan mereka.


Akhirnya, setelah total 47 jam liburan, sampailah kembali kami di Cibubur dengan selamat. Alhamdulillah, liburan ini benar-benar dapat menyegarkan pikiran. Sekitar pukul 1 dini hari, setelah semua kembali ke rumah masing-masing, aku dan keluarga pun dapat beristirahat dan bersiap untuk aktivitas rutin pada pagi harinya.



Kamis, 09 Juni 2011

Makasih ya Pak

tutkitb 
141 itu sdh termasuk PKK blm?
Me
jadi pkk yang 3 sks itu
nggak masuk sks lulus ataupun sks T
141 itu belum termasuk pkk
tutkitb 
ya udah, berarti emang sdh pas 144
Me
iya
trus, itu saya ubah nggak pak?
jumlah sks lulusnya?
atau dibiarin aja?
nanti saya kasih penjelasan di email
bagaimana?
tutkitb 
ga usah, yg penting kan sdh konfirmasi
Me
ok deh pak
yang penting udah kasih penjelasan ya pak
hehehe
tutkitb 
iya itu yg dimaksud dgn "hubungi Tata Usaha" 
bisa datang langsung ato via YM ini, mana aja yg memungkinkan
Me
iya pak...makasih ya pak
hehe
ngomong2 konfirmasi ini dicatet pak?
hehe...bisi lupa
tutkitb 
prinsipnya, selama mhs mengikuti instruksi, kita akan ngerti. jd ga perlu pake catetan. tp kalo perlu, silakan bawa catetannya. kalo perlu pake materai sekalian 
Me
hehehe
ampun pak....
takut aja pak
tiba2 saya batal lulus gara2 pkk g masuk
hehehe
tutkitb 
tp nilainya sdh tahu kan?
Me
katanya AB
bener nggak pak?
tutkitb 
kok katanya?emang blm liat pake mata kepala sendiri ? 
Me
belum pak
tadi kayaknya udah dicabut
tutkitb 
NIM?
Me
13007102
tutkitb 
kok ga ada NIM 13007102 dgn nama Gitta Pusparini ??? 
Me
hah
?
iya pak
13007102
Gitta Pusparini
tutkitb 
yg ada Ibu Fernando 
dapat AB 
Me
hahahaha
gubrakkk
boleh lah pak
hehe
makasih ya pak
tutkitb 
sama2

Senin, 06 Juni 2011

Bincang SMS di Sore Hari

F : Yang..uda udah di pabrik..kepala rasanya sakiit bgt..puyeng..
G : Buka aja atuh puasanya kalo g kuat,sayang....pusing bgt?kamu g sahur sih tadi
G: Yang,gimana? aku jadi khawatir gini...
F : Gpp kok..masi kuat Insya Allah.. uda bw kerja aj..
G : Emg biasanya kepalanya g dibawa kalo kerja?pantesan rotary g bener2,hahaha peace ah..
F : Sialaan..hehe...

Minggu, 29 Mei 2011

Ampun Bu, Ampun Pak...


Kejadian ini terjadi sekitar 4 tahun yang lalu (waah lama juga ya..) di kampus SMA N 2 Cimahi.

Aku dan sobatku, Hilda punya kebiasaan yang tidak baik untuk ditiru, yaitu membolos pada pelajaran BK. 
Sebenernya memang agak malas kami ikut pelajaran ini, selain karena pelajarannya hanya 1 jam, pelajaran ini juga mulai setelah jam istirahat. Seringnya sih kami teruskan saja istirahatnya daripada masuk kelas. Intinya, tidak ada pembelaan deh, aku sadar membolos itu salah.

Me & Hilda
Setelah beberapa minggu kejadian ini terus berlanjut, akhirnya kami memutuskan untuk masuk kelas karena merasa berdosa. Akan tetapi, seketika niat itu batal gara-gara teman kami, yang biasanya dia adalah siswi rajin, tapi nampaknya hari itu dia sedang di luar kebiasaannya. Dia mengajak kami bolos. Aku dan Hilda saling berpandangan bimbang. Kami pikir, alangkah tidak sopannya kalau kami masuk kelas dan teman kami ini bolos. Akhirnya kami pun ikut bolos.

Kami pergi ke kantin di belakang kelas kami, di meja kantin, kami mengisi waktu dengan mengerjakan pr kimia.
"aku bolos terus tapi nggak pernah ketauan ih, kalo ketauan gimana ya??" ucapku.
Kami hanya tertawa dan berharap itu tidak terjadi. Lalu tidak lama kemudian, teman sekelas kami, Maulana ikut bergabung dengan kami setelah melihat kami tidak masuk kelas, padahal tadinya dia mau masuk kelas.
Kami berempat pun belajar sambil berbincang-bincang.

Tiba-tiba kami dikejutkan dengan sesosok pria yang muncul tiba-tiba di meja kami. Dia adalah guru fisika kami yang juga tim buser anak-anak yang melanggar peraturan.
"Nah ya...ketauan ya...." gila, aku masih ingat apa yang diucapkannya.

Kami berempat pun kaget dan hanya bisa terdiam.
"Udah mulai nakal ya, kalian, hayo..lagi pelajaran apa di kelas kalian?" Sebenarnya kami memang biasa tergolong anak baik.
"BK pak.." jawab Maulana.
Aku, Hilda, dan Maulana hanya bisa tersenyum malu karena ketahuan. Lalu guru fisika kami berkata
"Hayo, masuk kelas, nanti saya lapor sama guru BK kalian.."
Kami bertiga benar-benar hanya bisa tersenyum, tapi teman kami matanya sudah berkaca-kaca.
"Jangan atuh bapak..." matanya sudah berkaca-kaca, suaranya bergetar.
"Jangan nangis, nggak apa-apa kok.." Hilda coba menenangkan teman kami.
"Apanya yang nggak apa-apa...enak aja..." Guru fisika kami langsung memotong, lalu dia pun berlalu.

Ternyata ini rasanya ketahuan bolos, rasanya malu, takut...huwaaa..rasanya ingin kutarik kembali kata-kataku di awal.

Aku, Hilda, dan Maulana terima-terima saja kalau kami kena hukuman, tapi aku kasian dengan teman kami. Dia anak yang baik, baru bolos sekali ini, tapi harus ketahuan. 

Tidak lama kemudian, guru BK kami pun datang dan menceramahi kami. Kami malah cengar-cengir, memang mungkin kami sedang badung-badungnya. Maafkan kami ya, bu.


Minggu, 22 Mei 2011

Petualangan Arini

Sabtu, 21 Mei 2011

Aku dan suamiku ngajak Arini, anak kami ke BIP biar dia nggak bosen di rumah terus. Eehh..baru sampe jalan tol, Arini udah bobo...

Arini kalo bobo sukanya sambil tengkurep
Padahal pengen foto di Photo box, akhirnya abis muter-muter nggak jelas Arini melek, langsung kita buru-buru ke photo box. Ini fotonya, sayang nggak ada soft file - nya.

Arini senyum!!! How cute she is...
Tapi...Arini langsung tidur lagi, habis sampai di rumah baru deh dia melek. Dasar bocah, diajak jalan-jalan malah tidur.

Minggu, 22 Mei 2011

Kita bertiga ke Gasibu dianter bapakku. Di Gasibu, Arini nyenyak aja tidur sambil digendong, padahal suasananya udah panas nggak karuan sampe aku dan suamiku nggak tahan kepanasan. Akhirnya kita mutusin buat pindah tempat, kita ke Mang Oyo naek angkot. Eeehh, ternyata Arini ikut sarapan, aku ama suamiku makan bubur, dia minum ASI dari botol.

Habis itu, kita bingung mau kemana, akhirnya kita mutusin ke Kebon Binatang Bandung karena deket. Wiih...adem banget di Bonbin, suamiku yang baru pertama kali ke Bonbin Bandung pun langsung betah gitu, dia sampe beli kacang buat gajah ama monyet.

Tapi emang dasar bocah, Arini masih aja tidur, jadi sebenernya sih ini nganterin suamiku aja yang keliatan "excited' banget. Abis cape muter-muter, kita istirahat dan sempet ambil foto pas Arini melek sebentar.

Di Bonbin
Pas di kandang ular, aku rada bergidik pas liat banyak ular kecil di satu lubang kecil. Hii...nggak suka liatnya, tapi pas liat ada bapak-bapak bawa ular sanca gede buat difoto, aku jadi kepengen. Akhirnya aku minta difoto, walaupun serem, tapi aku pengen sekali seumur hidup difoto ama ular (biar gaya gitu). Ini fotonya

Rasanya pengen cepet-cepet selesai difoto
Habis selesai difoto, rasanya masih geli aja...ampe gemeteran lutut rasanya.
Siangnya, kita pulang naek kereta. Arini masih aja tidur.
Gimana sih kamu, nak..diajak jalan-jalan malah tidur melulu.
Mudah-mudahan pas kamu gede nanti kamu baca tulisan ini dan tahu kamu udah diajak kemana aja, ya....

Jumat, 20 Mei 2011

J O R R

Aku dan suamiku tinggal di daerah Cibubur. Daerah ini kami pilih karena dekat dengan tempat kerja suamiku (di Gunung Putri). Sudah hampir 4 bulan kami tinggal di sana, tapi sekarang rumah itu sering ditinggal karena aku yang harus mengejar cita-cita akademikku di Bandung dan suamiku yang tidak tahan ditinggal sendiri. Ya, aku tinggal di Bandung dalam waktu sekitar sebulan lebih (Mei - Juni) dan suamiku pulang ke rumah orang tuanya di Jatibening.

Sejak dulu, suamiku pulang pergi Gunung Putri - Jatibening lewat tol JORR (Jakarta Outer Ring Road) karena lewat tol kota dan tol jagorawi pasti macet di setiap jam berangkat dan pulang kantor walaupun akan lebih dekat dan lebih murah. Rute lewat JORR ini memang menguntungkan buat dia, kecepatan mobil bisa sampai 100 km/jam dan memang dekat dari Jatibening.

Bulan Mei ini suasana agak sedikit berubah karena ada KTT ASEAN di Jakarta. Bus dan Truk dilarang melewati tol dalam kota Jakarta puku 05.00 s.d. 22.00 WIB. Ternyata kegiatan itu diulangi lagi sebagai uji coba agar tol dalam kota menjadi tidak macet.

Melihat perbedaan ini, saat aku berkunjung ke Cibubur aku bertanya pada suamiku
"Sekarang truk lewat JORR semua ya?" sambil melihat polisi yang berjaga di jalan masuk JORR.
"Iya..kan nggak boleh lewat tol kota". Jawabnya sambil nyetir.
"Trus, efeknya apa?"
"Iya...sekarang JORR nya jadi macet nih, Uda pulang tiap hari  jadi lama gara-gara macet..rame ama truk sih tolnya..." saat bilang ini, dia menunjukkan muka yang kesal.
"Trus, di tol dalam kota jadi nggak macet dong??"
"iya..tol kota jadinya lowong banget....." makin kesel aja dia kayaknya.

Akhirnya kami kembali terdiam dan sibuk dengan pikiran masing-masing, aku tidak tahu apa yang dia pikirkan, tapi yang ada di pikiranku adalah malang benar nasib suamiku, setiap hari harus menghadapi kemacetan padahal biasanya dia biasa ngebut di JORR. Lalu aku menjadi heran dan langsung kuungkapkan keherananku.
"Trus, kok kamu lewat JORR?? kenapa ngak lewat tol dalam kota??"
Suamiku tidak menjawab, hanya saja mukanya menjadi merah, terbentuk senyum malu, dan tidak mau menatapku (memang dia lagi nyetir sih). Aku mengerti apa yang dia maksud.
"Ya ampun....ckckck...lewat tol kota kan lebih deket, lebih murah lagi, udah gitu sekarang nggak macet.....hahaha...nggak ngerti deh ama jalan pikiran kamu....."

Beberapa minggu kemudian, saat dia dalam perjalanan pulang kantor, dia meneleponku, di sela-sela pembicaraan aku bertanya,
"udah sampai mana?"
"baru masuk JORR nih..."
aku pun kaget "hah??kok lewat JORR sih??"
suamiku diam sejenak (lumayan lama sebenarnya) lalu berkata "berisik loe....hahahaha......nggak usah dibahas ah..", aku hanya tersenyum mendengarnya.

Suamiku, kamu cinta JORR banget, ya??